Business versus Safety: Sekilas Info Dalam Menghadapi Kebijakan Open Skies

1 02 2014

“Safety is an illusion demanded by those delusional enough to think they can cheat death.” — Henning

Kita semua menyadari bahwa keselamatan adalah sebuah tuntutan yang paling mendasar bagi kita bersama dalam setiap perjalanan dan merupakan hal yang paling esensial dalam kehidupan setiap manusia. Hal tersebut akan menjadi lebih serius lagi apabila dikaitkan dengan perlindungan diri dari sebuah kecelakaan yang dapat merenggut jiwa kita, oleh karena itu kita wajib melakukan ikhtiar dengan mempergunakan berbagai cara dan formula dalam pencapaiannya. Namun, kita juga harus menyadari, disisi lain manusia pada dasarnya ingin memperoleh keselamatan tanpa harus mematuhi semua aturan yang berlaku. Sebelum melangkah lebih jauh dalam pembacaan artikel ini, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa dalam penerbangan sipil pengertian keselamatan berbeda dengan keamanan, maka dengan demikian, arti kondisi selamat berbeda dengan aman. Hal ini perlu untuk kami jelaskan terlebih dahulu, mengingat sering dipergunakannya kedua kata tersebut dalam kalimat secara tidak tepat. Dalam kaitannya dengan hal tersebut ada baiknya kita melihat sejenak kepada isi Undang-Undang yang kita miliki saat ini. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, didefinisikan bahwa

“Keselamatan Penerbangan adalah suatu keadaan (selamat)(dengan) terpenuhinya (semua) persyaratan keselamatan dalam pemanfaatan wilayah udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, serta fasilitas penunjang dan (fasilitas) umum lainnya.”

Kata didalam kurung adalah sebatas kelengkapan menurut pendapat kami. Sedangkan,

“Keamanan Penerbangan adalah suatu keadaan yang memberikan perlindungan kepada penerbangan dari tindakan melawan hukum melalui keterpaduan pemanfaatan sumber daya manusia, fasilitas, dan prosedur.” Baca entri selengkapnya »





SYUKURAN PENGANGKATAN SEBAGAI PEGAWAI TETAP

21 10 2013





Pelaksanaan ujian rating tahap pertama

26 03 2012

image

Acara pembukaan ujian rating Dinas PKP-PK. Ujian ini diikuti oleh 1 orang Komandan Jaga, 3 orang Komandan Regu, 7 orang Pelaksana Senior, 4 orang Pelaksana Junior dan 4 orang Pelaksana Basic.
Penguji dari Dirjen diwakili oleh Sdr. Hengky Fernando dan perwakilan dari Kantor Pusat PT. Angkasa Pura II Bpk. Alibin.





Pelaksanaan sosialisasi perpanjangan rating Dinas PKP-PK Bandara Internasional Supadio Pontianak

25 03 2012

image

Sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2012 merupakan salah satu persyaratan untuk perpanjangan Rating pada tiap Bandara. Materi disampaikan oleh bapak Alibin dari Kantor Pusat.





PENGETAHUAN BISNIS BANDAR UDARA

23 03 2012

Filosofi dasar keberadaan bandar udara

Keberadaan bandara harus dapat menggerakan roda perekonomian di daerah sekitar bandara & harus dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar bandara.

Pelayanan bandara harus berorientasi kepada kepuasaan pelanggan (pengguna jasa), menciptakan keamanan, ketertiban, kelancaraan & kenyamanan serta memiliki nilai tambah bagi para pelaku ekonomi melalui pelayanan jasa transportasi udara yang efektif dan efisien.

Bandara harus diusahakan sedemikian rupa sehingga dapat memumpuk keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mempertimbangkan aspek keamanan & keselamatan penerbangan.

Bandara berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan

Adalah kawasan di daratan dan atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat & lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang & tempat perpindahan intra & antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan & keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok & fasilitas penunjang lainnya.

Pelayanan dan fasilitas bandar udara

  • Essensial Operational Services (ATS, RFFS, Security, etc) Diarahkan untuk kapasitas operasi pelayanan lalu lintas udara, keamanan dan keselamatan penerbangan serta kelancaraan;
  • Traffic Handing Services (Check-in, Counter, Loading/Unloading,etc) untuk mendukung pelayanan penerbangan;
  • Commercial Activities (Concessionaires, etc); Merupakan bisnis turunan karena adanya penumpang penerbangan dan pengguna jasa bandara, kargo dan pemanfaatan kawasan bandara

Baca entri selengkapnya »





PERAWATAN KENDARAAN PKP-PK

23 03 2012

Dasar Pelaksanaan 

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/ 94/IV/98  Bab VII tentang perawatan fasilitas PKP-PK menyatakan  :

1. Pasal 31 ayat (1)  Setiap bandar udara harus dilengkapi dengan  :

  • Prosedur perawatan fasilitas PKP-PK agar operasinya dapat maksimum sesuai dengan kategori bandar udara untuk PKP-PK;
  • Fasilitas perawatan kendaraan PKP-PK sesuai dengan kebutuhannya;

2. Pasal 31 ayat (2)  Perawatan fasilitas PKP-PK sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi  :

  • 1)      Penggantian pelumas sesuai persyaratan pengoperasian kendaraan;
  • 2)      Pengecekan bahan bakar dan pelumas setiap hari sebelum dioperasikan;
  • 3)      Pengecekan dan pemanasan mesin utama, mesin pompa dan mesin pembangkit listrik setiap penggantian shift selama kurang lebih 10 menit;
  • 4)      Uji jalan pada tiap tiap kendaraan setiap hari minimum dalam 1 bulan menempuh jarak 60 km;
  • 5)      Pengujian pompa pemadam sesuai prosedur yang berlaku bagi tiap-tiap kendaraan;
  • 6)      Pengurasan tangki air minimum 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan;

3. Pasal 33 ayat (1) Setiap kendaraan PKP-PK harus diuji         keandalannya secara periodik antara lain  :

  • Rata-rata pancaran (Discharge Rate)            liter/menit;
  • Jangkauan pancaran (Discharge Range)                        meter;
  • Akselerasi (SpeedAcceleration) 0-80 km/h dalam detik;
  • Waktu bereaksi (Response Time)                 menit;
  • Kecepatan maksimum (Maximum Speed)       km/jam             km/jam;
  • Jarak pengereman (Stopping Distance)           meter;

Baca entri selengkapnya »





PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN DI DARAT

23 03 2012

Pendahuluan

Sasaran utama dari program manajemen kebakaran adalah untuk mencegah agar kebakaran tidak terjadi melalui upaya pencegahan bahaya kebakaran (fire prevention).

Pencegahan bahaya kebakaran merupakan upaya sistematis untuk menghindarkan terjadinya api dengan menerapkan konsep segitiga api.  Dalam upaya menerapkan pencegahan kebakaran ini pendekatan yang dilakukan adalah menghindarkan terjadinya kontak antara ketiga unsur api. Jika kontak tidak terjadi , maka kebakaran juga tidak akan timbul,

Oleh karena itu para ahli kebakaran melakukan berbagai upaya pencegahan kebakaran dengan menerapkan konsep segitiga api sebagai landasannya yaitu sebagai berikut  :

  • Mengelola atau mengendalikan semua bahan yang bisa menjadi bahan bakar.
  • Mengendalikan sumber api agar tidak bersatu dengan bahan bakar.
  • Konsep segitiga api ini dikembangkan dalam berbagai bentuk pendekatan antara lain konsep pohon kebakaran (fire tree concepts) , konsep pencegahan kebakaran (fire prevention) dan berbagai pendekatan lainnya.

Namun secara praktis upaya pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui upaya sebagai berikut  :

  • Melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap semua unsur atau material yang dapat terbakar.   Minyak, gas, kertas atau bahan bahan plastik harus dikelola dengan baik mulai dari penyimpanan, pengangkutan dan penggunaannya.
  • Mengelola atau mengendalikan semua sumber api atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan api. Peralatan listrik atau instalasi listrik dikelola dan dipasang sesuai standar dan persyaratan.  Peralatan atau pekerjaan yang menggunakan panas seperti pengelasan , merokok, dan api dapur dikontrol dengan berbagai cara dan langkah misalnya menerapkan sistem ijin kerja panas.

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 88 pengikut lainnya.