FASILITAS PEMADAM KEBAKARAN BANDARA

19 03 2012

Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran
Sarana proteksi kebakaran paling ujung yang berhadapan langsung dengan api adalah sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi terjadinya api dan kemudian menyampaikan peringatan dan pemberitahuan kepada semua pihak. Peralatan ini sering disebut juga early warning system (EWS).

1. Deteksi Kebakaran

Sistem pertama yang menjadi ujung tombak proteksi kebakaran adalah sistem deteksi.  Sesuai dengan namanya , fungsi alat ini adalah untuk mnendeteksi terjadinya api sedini mungkin.  Cara tradisional untuk mendeteksi api adalah dengan melihat secara langsung adanya asap atau dengan penciuman .  Namun cara ini tidak efektif karena harus dilihat langsung.  Untuk itu diperlukan suatu sistem deteksi yang bisa bekerja sendiri yang memberikan perlindungan terhadap aset dengan mendeteksi adanya api.           Prinsip deteksi api didasarkan atas elemen-elemen yang ada dalam suatu api yaitu adanya asap, panas dan nyala.   Alat untuk mendeteksi api ini disebut detektor api  (fire detector) yang dapat digolong beberapa jenis yaitu  :

a. Detektor asap  (smoke detector)

Detektor asap adalah sistem deteksi kebakaran yang mendeteksi adanya asap.  Menurut sifat fisiknya , asap merupakan partikel-partikel karbon hasil pembakaran yang tidak sempurna. Keberadaan ini digunakan untuk membuat suatu alat deteksi asap.

Berdasarkan cara kerja detektor asap dikelompokkan atas 2 jenis yaitu  :

Jenis ionisasi  yaitu  dengan menggunakan bahan radio aktif yang akan mengionisasi udara di suatu ruangan dalam komponen detektor.

Jenis photoelectric yaitu listrik dalam ruang dihantar melalui udara di antara dua batang elektroda.  Apabila partikel asap masuk kedalam ruang detektor , maka akan menyebabkan penurunan daya hantar listrik.  Detektor ini mendeteksi adanya asap dengan melihat adanya penurunan daya hantar listrik.  Selanjutnya detektor akan memberikan sinyal ke sistem alarm.

Sesuai dengan alat tersebut , maka detektor asap sangat tepat digunakan di dalam bangunan dimana banyak terdapat kebakaran kelas A yang banyak menghasilkan asap.   Namun kurang tepat digunakan untuk kebakaran hidrokarbon atau gas.

b. Detektor panas

Api akan mengeluarkan energi panas yang besarnya tergantung intensitas api dan daya reaksinya.  Adanya panas ini dapat dideteksi dengan menggunakan detektor panas.       Detektor panas adalah peralatan dari detektor kebakaran yang dilengkapi dengan suatu rangkaian listrik atau pneumatic yang secara otomatis akan mendeteksi kebakaran melalui panas yang diterimanya.

Sistem detektor panas (heat detector) terbagi beberapa jenis sesuai prinsip kerjanya yaitu  :

– Detektor suhu tetap (Fixed Temperature Detector)

Detektor ini mendeteksi panas dari api pada suhu tertentu sesuai dengan rancangannya dan kemudian aka memberikan sinyal ke system alarm.  Detektor ini sangat populer dan banyak dipasang di bangunan .      Salah satu jenis detektor panas ini berupa tabung gelas yang akan meleleh pada suhu tertentu , misalnya pada suhu 68ºC.  Jika panas ruangan akibat adanya api meningkat dan mencapai batas suhu tersebut , kaca atau tabung akan pecah dan memberikan sinyal ke sistem alarm atau menyemburkan air.

– Detektor jenis peningkatan suhu

Deteksi kebakaran juga dapat dilakukan dengan mendeteksi adanya kenaikan atau tingkat kenaikan suhu dalam suatu ruangan.  Detektor jenis ini disebut rate of rise detector. Detektor ini terdiri dari tabung detektor (detector housing) yang memiliki beberapa lobang kecil dengan sebuah diaphragm.  Adanya kenaikan suhu ruangan akan masuk ke dalam badan detektor mengakibatkan terjadinya pemuaian udara di dalamnya. Pemuaian ini  akan mengakibatkan timbulnya tekanan pada diaphragm sehingga terjadi kontak listrik. Detektor jenis pneumatic terdiri dari tabung metalik dalam bentuk gulungan panjang yang dapat dihubungkan dengan detektor.  Panas akibat kebakaran akan mengakibatkan udara memuai dan menekan diaphragm yang selanjutnya mengaktifkan detektor.

c. Detektor nyala (flame detector)

Api juga mengeluarkan nyala (flame) yang akan menyebar ke sekitarnya.  Api mengeluarkan radiasi sinar infra merah dan ultra violet.  Keberadaan sinar ini dapat dideteksi oleh sensor yang terpasang dalam detektor .  Sesuai dengan fungsinya , detektor ini ada beberapa jenis yaitu  :

  • Detektor infra merah (infrared detector);
  • Detektor UV (ultra violet detector);
  • Detektor foto elektrik (photo electric detector);

2. Sistem alarm kebakaran

Secara modern dikembangkan sistem alarm kebakaran baik yang bekerja secara manual atau otomatis yang diintegrasikan dengan sistem deteksi kebakaran.  Setelah api dideteksi maka adanya kebakaran.  Ini harus dengan segera diinformasikan untuk diketahui oleh semua pihak dengan menggunakan sistem alarm.

Sistem alarm kebakaran dilengkapi dengan tanda atau alarm yang bisa dilihat atau didengar.  Penempatan alarm kebakaran ini biasanya pada koridor atau gang-gang dan jalan dalam bangunan atau suatu instalasi.

Ada alarm sistem yang bekerja dengan manual yang bisa ditekan melalui tombol yang berada dalam lemari atau kotak alarm (break glass).  Jika kaca dipecah , maka tombol akan aktif dan segera mmengeluarkan sinyal alarm dan mengaktifkan sistem kebakaran lainnya.

Ada juga sistem alarm yang diaktifkan oleh sistem detektor. Ketika detektor mendeteksi adanya api maka detektor akan segera mengaktifkan alarm atau langsung sistem pemadam yang ada.

Alarm kebakaran ada berbagai macam antara lain  :

> Bel

Bel merupakan alarm yang akan berdering jika terjadi kebakaran.  Dapat digerakkan secara manual atau dihubungkan dengan sistem deteksi kebakaran.  Suara bel agak terbatas, sehingga sesuai ditempatkan dalam ruangan terbatas seperti kantor

> Sirene

Fungsi sama dengan bel, namun jenis suara yang dikeluarkan berupa sirine.  Ada yang digerakkan secara manual dan ada yang bekerja secara otomatis.  Sirine mengeluarkan suara yang lebih keras sehingga sesuai digunakan di tempat kerja yang luas seperti pabrik.

> Horn

Horn juga berupa suara yang cukup keras namun lebih rendah dibanding sirine.

> Pengeras suara (public address)

Salah satu jenis alarm kebakaran adalah alarm telegrafis. Alarm ini dapat mengirim dan memancarkan sinyal alarm kebakaran dalam suatu bangunan ke sarana induk di fire station.  Sistem ini biasanya menggunakan transmitter yang terhubung dengan sarana penerima sinyal di pusat komando atau panel utama.

Transmitter ini juga dapat dihubungkan dengan sistem pemberi sinyal yang ada dalam bangunan.  Ada juga transmitter yang tidak terhubung dengan sistem proteksi kebakaran, tetapi digunakan hanya sebagai sarana pemancar sinyal alarm kebakaran manual ke sarana induk.

Sistem Air Pemadam

Salah satu elemen proteksi kebakaran adalah sistem air, yaitu sejak dari sumbernya sampai air dipancarkan di lokasi kebakaran. Sistem air ini terdiri atas beberapa komponen utama yaitu  :

1. Sumber air dan penampung

– Tangki air yang dipasang di tempat yang tinggi sehingga diharapkan akan memberikan tekanan yang cukup untuk mengalir sendiri tanpa bantuan pompa pemadam;

– Menggunakan bak air di lantai dasar dengan bantuan pompa pemadam untuk mengalirkan air ke lokasi kebakaran.

2. Pompa pemadam kebakaran

  • Menurut penggeraknya pompa pemadam dibagi dua yaitu pompa penggerak listrik dan pompa diesel;
  • Pompa dijalankan dan distop dengan control;
  • Pompa bekerja apabila jaringan pipa memerlukan tekanan tambahan;
  • Pompa berhenti setelah mencapai tekanan yang diinginkan;
  • Pompa mempunyai alat pengatur supaya pompa tidak hidup terus menerus;
  • Perlu dipasang jockey pump yang dipasang paralel dengan pompa utama yang berfungsi untuk menjaga tekanan dalam sistem air pemadam sekaligus mencegah agar pompa tidak bekerja terus menerus dalam keadaan adanya bocoran atau rembesan.

3. Jaringan pipa pemadam.

Air dari sumbernya tidak akan sampai ke lokasi kebakaran jika tidak dibantu oleh jaringan pipa pemadam kebakaran (fire water line).  Oleh karena itu sekeliling objek atau sarana yang akan diproteksi perlu dipasang sistem jaringan pipa pemadam.   Pipa penyalur ini dapat menggunakan berbagai jenis bahan seperti plastik, metal atau fiberglas.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kekuatannya dan ketahanannya terhadap tekanan air serta kemungkinan benturan terkena benda lainnya.  Untuk itu jaringan pipa biasanya dipasang dengan dua cara yaitu di bawah tanah dan di atas tanah. Ukuran pipa pemadam disesuaikan dengan kebutuhan atau kuantiti air yang diperlukan berdasarkan perhitungan kebakaran.  Ukuran minimum untuk pipa pemadam sekitar 4 inch untuk jalur utama dan 3 inch untuk cabang cabangnya.

loop system

Salah satu persyaratan pemasangan pipa pemadam adalah berupa melingkar atau disebut loop system.  Dengan cara ini maka air pemadam untuk suatu objek akan diperoleh dari dua arah, sehingga jika di suatu bagian pipa mengalami kerusakan akibat kebakaran, air masih dapat dialirkan melalui jalur yang lain. Untuk itu jaringan pipa dilengkapi dengan katup isolasi  (isolation valve) yang berfungsi menutup sebagian dari jalur pipa misalnya ada pekerjaan perbaikan atau akibat kerusakan,  Dengan demikian air pemadam untuk suatu peralatan tidak akan terputus.

4. Hidran Pemadam Kebakaran (Fire Hydrant)

Berdasarkan lokasi penempatan jenis hidran dibagi menjadi  :

fire hydrant unit

  • Hidran gedung (Fire Hydrant Unit)
  • Hidran halaman (Fire Hydrant Pilar)

    fire hydrant pilar

Komponen hidran

  • Persediaan air
  • Pompa pompa
  • Slang pemadam
  • Coupling penyambung
  • Perlengkapan lainnya

Untuk hidran kebakaran diperlukan persyaratan teknis sebagai berikut   :

  • Sumber persediaan air harus diperhitungkan minimum untuk pemakaian selama 30 menit;
  • Pompa dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran listrik tersendiri dari sumber listrik darurat;
  • Slang pemadam dengan diameter minimum 1,5 inch harus terbuat dari bahan yang tahan panas panjang slang max. 30 meter;
  • Harus disediakan coupling penyambung yang sama dengan coupling unit pemadam kebakaran;

5. Sprinkler

Adalah alat untuk memancarkan bahan pemadam yang berupa air, foam, CO2, dry chemical powder dll.

sistem splinkler

Untuk sistem sprinkler menggunakan air terdiri dari  :

  • Penyediaan air / water supply;
  • Jaringan pipa air sprinkler;
  • Kepala sprinkler;
  • Alat bantu lainnya;

Sistem penyediaan air dapat diusahakan melalui  :

– Tangki gravitasi

Tangki tersebut diatur letaknya , ketinggiannya, kapasitas penampungan sehingga dapat menghasilkan aliran dan tekanan air yang cukup pada setiap kepala sprinkler;

Pada tangki tersebut harus dilengkapi alat deteksi yang dapat membersihkan tanda apabila tekanan dan atau tinggi permukaan air dalam tangki turun melampaui batas yang ditentukan.

Isi tangki harus selalu terisi minimum 2/3 bagian, tekanan sekurang kurangnya 5 bar;

Jaringan air bersih dapat digunakan apabila kapasitas dan tekanannya memenuhi syarat yang ditentukan.  Diameter pipa yang dihubungkan ke pipa tegak sprinkler harus sama dengan ukuran 100 mm (10 cm);

Bila tangki gravitasi dan tangki bertekanan dan jaringan air bersih tidak berfungsi normal dapat dipompakan air dari tangki mobil unit pemadam kebakaran dengan melalui pipa cabang siamese yang diameter sama besar;

Jaringan pipa yang dapat digunakan yaitu pipa galvanis, pipa besi tulang dan pipa tembaga;

kepala sprinkler

Kepala sprinkler adalah bagian dari sprinkler yang berada pada ujung jaringan pipa dan diletakkan sedemikian rupa sehingga akibat adanya perubahan suhu tertentu akan memecahkan kepala sprinkler tersebut dan akan memancarkan air secara otomatis.

Jenis kepala sprinkler dibedakan atas arah pancaran dan tingkat kepekaannya terhadap suhu / temperatur.

Berdasarkan arah pancarannya kepala sprinkler dibedakan atas  :

a)    Pancaran ke arah atas;

b)    Pancaran ke arah bawah;

c)    Pancaran dari arah dinding;

Berdasarkan kepekaan terhadap suhu kepala sprinkler dibedakan atas  :

kepala sprinkler segel berwarna

 

a)    Kepala sprinkler dengan segel berwarna;

kepala sprinkler dengan tabung cairan berwarna

b)    Kepala sprinkler dengan tabung gelas berisi cairan berwarna.

Kepekaan kepala sprinkler dengan segel berwarna:

64 – 74′ C (Tak berwarna) ; 93 – 100′ C (Putih) ; 141’C (biru) ; 182’C (kuning) ; 224’C (merah)

Kepekaan  : Dibedakan dari warna tabung gelas dari kepala sprinkler

Suhu pecah tabung gelas (ºC)                                               Warna cairan

57                                                                                                          jingga

68                                                                                                          merah

79                                                                                                          kuning

93                                                                                                          hijau

182                                                                                                        ungu

204-260                                                                                             hitam

Pipa peningkatan air / riser pipe / stand pipe

Jalur pipa tegak (stand pipe) biasanya dipasang pada bangunan bertingkat tinggi untuk menyalurkan air dari lantai dasar ke lantai lantai.   Jalur pipa tegak ini sangat penting untuk memudahkan upaya pemadaman dan penyaluran air dari lantai terbawah.  Berikut ini penjelasan tentang karakteristik stand pipe yaitu sebagai berikut  :

  • Untuk bangunan kelas A mulai dengan ketinggian 14 meter (4 lantai) ke atas dn bangunan kelas B mulai dengan ketinggian 40 meter (8 lantai) ke atas, harus diperhitungkan kemungkinan dipasangnya instalasi pipa peningkatan air;
  • Pipa peningkatan air kering hanya boleh dipasang pada bangunan gedung dengan ketinggian maksimum 60 meter, selebihnya menggunakan pipa peningkatan air basah;
  • Untuk setiap lantai dengan luas 800 meter persegi. Untuk  bangunan kelas A  dengan luas 1000 meter persegi; Untuk bangunan kelas B harus terdapat minimum 1 buah riser pipe;
  • Pipa peningkatan air harus dipasang sedemikian rupa, hingga jarak dari tiap bagian setiap lantai ke pipa peningkatan air tidak melebihi 38 meter;
  • Ujung tegak yang berada di halaman luar harus mudah dilihat dan dicapai dengan memberi Dry Riser atau Wet Riser;
  • Ketinggian ujung bawah pipa peningkatan air atau ujung pipa peningkatan air yang berada di halaman +  1,25 meter di atas halaman dan harus dilengkapi dengan coupling penyambung yang sesuai dengan coupling penyambung dari unit pemadam kebakaran;

Aksi

Information

One response

17 05 2014
Mustangin Mulyana

Mohon informasi lebih jelas terkait harga dan pemasaranya, kalau diijinkan kami berkenan mencoba memasarkan di Kabupaten Cilacap melalui CV Anugrah Bahtera Mas. demikian mohon balasanya. email. mmulyana9@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: