PENCEGAHAN BAHAYA KEBAKARAN DI DARAT

23 03 2012

Pendahuluan

Sasaran utama dari program manajemen kebakaran adalah untuk mencegah agar kebakaran tidak terjadi melalui upaya pencegahan bahaya kebakaran (fire prevention).

Pencegahan bahaya kebakaran merupakan upaya sistematis untuk menghindarkan terjadinya api dengan menerapkan konsep segitiga api.  Dalam upaya menerapkan pencegahan kebakaran ini pendekatan yang dilakukan adalah menghindarkan terjadinya kontak antara ketiga unsur api. Jika kontak tidak terjadi , maka kebakaran juga tidak akan timbul,

Oleh karena itu para ahli kebakaran melakukan berbagai upaya pencegahan kebakaran dengan menerapkan konsep segitiga api sebagai landasannya yaitu sebagai berikut  :

  • Mengelola atau mengendalikan semua bahan yang bisa menjadi bahan bakar.
  • Mengendalikan sumber api agar tidak bersatu dengan bahan bakar.
  • Konsep segitiga api ini dikembangkan dalam berbagai bentuk pendekatan antara lain konsep pohon kebakaran (fire tree concepts) , konsep pencegahan kebakaran (fire prevention) dan berbagai pendekatan lainnya.

Namun secara praktis upaya pencegahan kebakaran dapat dilakukan melalui upaya sebagai berikut  :

    • Melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap semua unsur atau material yang dapat terbakar.   Minyak, gas, kertas atau bahan bahan plastik harus dikelola dengan baik mulai dari penyimpanan, pengangkutan dan penggunaannya.
    • Mengelola atau mengendalikan semua sumber api atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan api. Peralatan listrik atau instalasi listrik dikelola dan dipasang sesuai standar dan persyaratan.  Peralatan atau pekerjaan yang menggunakan panas seperti pengelasan , merokok, dan api dapur dikontrol dengan berbagai cara dan langkah misalnya menerapkan sistem ijin kerja panas.

Konsep Pohon Kebakaran  (Fire Tree)

Secara konsepsional pencegahan kebakaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan pohon kebakaran (fire tree concept) yang dikembangkan oleh National Fire Protection Association (NFPA) dengan standar NFPA 550.

Pohon kebakaran ini menjelaskan secara komprehensif  bagaimana strategi mengelola kebakaran dengan efektif dan menyeluruh.

Konsep pohon kebakaran dimulai dengan menetapkan objektif yaitu untuk mencegah terjadinya kebakaran. Untuk mencegah kebakaran dapat dilakukan melalui 2 pendekatan yaitu  :

  1. Mencegah terjadinya penyalaan (ignition);
  2. Mengelola dampak atau akibat dari suatu kebakaran (manage fire impact)

Prinsip inilah yang digunakan dan dikembangkan dalam langkah-langkah berikutnya melalui konsep pohon kebakaran (fire tree concept);

  • Objektif kebakaran dan keselamatan

Langkah awal adalah menetapkan objektif kebakaran dan keselamatan yaitu untuk mencegah kebakaran dan perlindungan terhadap manusia;

  • Mencegah penyalaan api

Prinsip pertama dalam pencegahan kebakaran adalah dengan menghindarkan terjadinya suatu penyalaan.  Mencegah terjadinya penyalaan sangat efektif karena tanpa adanya percikan atau nyala api maka api tidak akan terjadi.  Hal ini dapat dilakukan melalui tiga pendekatan segitiga api yaitu  :

1. Mengendalikan sumber energi panas

Tanpa adanya sumber panas maka kebakaran tidak akan terjadi.  Sebagai contoh membuat larangan merokok dalam bangunan dapat mengurangi potensi terjadinya kebakaran.   Mengendalikan sumber panas dilakukan melalui dua pendekatan sebagai berikut  :

a. Eliminasi –  menghilangkan sumber energi panas.

Hindarkan adanya sumber panas yang tidak terkendali dalam ruangan atau bangunan.  Sebagai contoh dibuat daerah bebas merokok atau memasak dengan menggunakan kompor gas atau listrik.  Tanpa adanya sumber panas , maka kemungkinan terjadinya kebakaran dapat ditekan.

b. Pengendalian tingkat energi panas yang keluar

Jika sumber panas tidak bisa dihilangkan, maka pendekatan berikutnya adalah dengan mengendalikan tingkat energi yang keluar.  Sebagai contoh , membatasi intensitas panas, mengurangi penggunaan alat listrik bertegangan tinggi dan membatasi besarnya api yang digunakan.  Semakin kecilnya intensitas api, semakin kecil dampak kebakaran yang ditimbulkan.

2. Mengendalikan sumber interaksi bahan bakar

Proses kebakaran juga dapat dikendalikan dengan menghindarkan atau mengurangi interaksi bahan bakar baik dengan sesama material lainnya maupun dengan oksigen sebagai unsur penting dalam proses pembakaran.

Hal yang dapat dilakukan antara lain  :

a. Mengendalikan penjalaran sumber energi dari suatu tempat ke tempat lainnya atau menghindarkan adanya kontak antara bahan bakar.  Hal ini dapat dilakukan melalui dua cara  :

> Separasi misalnya dengan membuat pemisah antara suatu bahan yang dapat terbakar dengan sumber api atau dengan memasang penghalang (barrier);

> Mengendalikan perpindahan energi dilakukan dengan cara  :

  • Mengendalikan konduksi panas;
  • Mengendalikan konveksi;
  • Mengendalikan radiasi panas;

Pengendalian perpindahan bahan bakar dilakukan dengan cara  :

  • Menyediakan barrier;
  • Menyediakan pemisahan (separation)

Mengendalikan bahan bakar

Agar tidak ada sumber untuk terjadinya penyalaan.  Tanpa adanya bahan bakar dalam ruangan , maka kemungkinan terjadinya api dapat ditekan ,  sekalipun sumber panas tersedia.  Sebagai contoh menjauhkan bahan mudah terbakar , mengurangi penyimpanan minyak di dalam ruangan.

Pengendalian bahan bakar dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu  :

1)    Eliminasi sumber bahan bakar

Kebakaran tidak akan terjadi jika tidak ada bahan yang akan terbakar.  Semua bahan bakar dijauhkan atau dihilangkan dari lingkungan atau tempat kerja. Hal ini dapat dilakukan misalnya menjauhkan minyak dari tempat kerja , membersihkan kertas , sampah dan bahan bahan mudah terbakar lainnya.

2)    Mengendalikan stabilitas bahan bakar

Hal ini dilakukan melalui 2 cara sebagai berikut  :

a)    Mengendalikan properti bahan bakar

Bahan bakar memiliki properti atau sifat kimia dan fisik tertentu yang berperan mendukung proses pembakaran.  Jika properti ini bisa dikendalikan atau diubah , misalnya dengan mempengaruki titik nyala (flash point) atau batas nyalanya (explosive range) maka kebakaran dapat dikurangi.

b)    Mengendalikan lingkungan kebakaran

Faktoir lingkungan juga menentukan dan mempengaruhi proses pembakaran, misalnya tiupan angin, cuaca, suhu dan lainnya.  Jika hal ini bisa diubah atau dimodifikasi , maka proses pembakaran dapat dikendalikan..

1. Mengelola dampak kebakaran

Strategi ini merupakan mengelola dampak kebakaran jika telah terjadi.

Hal ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu  :

a. Mengelola kebakaran (manage fire) jika terjadi misalnya dengan memadamkan kebakaran secara cepat; Mengelola kebakaran jika terjadi dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan sebagai berikut :

– Mengendalikan proses pembakaran  :

(control combustion process)

  • Mengendalikan properti bahan bakar;
  • Mengendalikan lingkungan;
  • Mematikan api (supress fire);

Pemadaman secara otomatis yaitu dengan menyediakan sarana proteksi kebakaran otomatis sehingga mampu melindungi fasilitas sepanjang waktu;

Pemadaman secara manual dengan menyediakan APAR;

  • Mengendalikan api dengan konstruksi (control fire by construction);

Kebakaran dapat dikurangi atau dikendalikan melalui konstruksi , misalnya dengan membuat sistem koridor, dinding penyangga api atau membuat pintu kedap api;

Menyediakan stabilitas konstruksi yaitu dengan membuat bangunan menggunakan bahan tahan api atau dengan membuat lapisan fire proofing pada fasilitas yang berbahaya.  Dengan cara ini bangunan akan memiliki daya tahan lebih lama terhadap kebakaran;

  • Mengendalikan pergerakan api;

Mengelola paparan (manage exposure)

Strategi lainnya dalam mengelola dampak kebakaran adalah dengan mengelola efek kebakaran terhadap objek yang terpapar  (dampak kebakaran) baik manusia , benda, atau bangunan.   Diharapkan dengan mengamankan dan melindungi objek yang terpapar api, maka dampak suatu kebakaran dapat dikurangi atau ditekan.

Upaya mengelola objek yang terkena paparan dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan sebagai berikut  :

1)    Membatasi jumlah paparan

Semakin banyak objek yang terpapar semakin tinggi dampak resiko kebakaran.   Oleh karena itu, harus diupayakan mengurangi seminimal mungkin objek yang terpapar kebakaran.  Misalnya dengan mengurangi atau membatasi jumlah bahan bakar yang ada di lokasi kebakaran dan jumlah manusia yang berdekatan.

2) Mengamankan paparan

Strategi lainnya adalah dengan melindungi objek terpapar dari bahaya kebakaran.   Lindungi terpapar di tempat , dilakukan jika terpapar tidak bisa dipindah atau dijauhkan dari kebakaran dengan cara  :

–       Batasi pergerakan terpapar dengan melokalisir dan mengamankan pergerakan terpapar;

–       Pertahankan terpapar di tempat mempertahankan objek terpapar di tempatnya dengan mempertimbangkan kondisi kebakaran sampai dapat diamankan atau  dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

  • Pelihara lingkungan sekitarnya, misalnya menjaga agar objek terpapar tidak rusak atau terpapar penjalaran asap.  Dapat dilakukan misalnya dengan membuat ventilasi buatan sementara untuk membuang asap supply udara segar;
  • Pindahkan terpapar bila memungkinkan.

Objek barang atau orang dipindahkan ke tempat yang aman jauh dari sumber kebakaran dengan demikian tingkat keparahan korban atau dampak kebakaran dapat dikurangi.


Aksi

Information

2 responses

23 03 2012
MENONE

waaaaaaaaaahhh….. artikelnya komplittttt……..

23 03 2012
pkppksupadio

makasih buat menone sudah mampir di blog kami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: